Bernostalgia dengan Bintang Juventus di Masa Kejayaan Platini: Boniek, Scirea dll

Posted on

Pada tahun 1985, seluruh mata tertuju kepada Juventus. Klub raksasa Italia tersebut jadi bahan atensi lantaran fansnya ikut serta dalam perselisihan yang diketahui dengan nama Kejadian Heysel.

Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 1- 0 buat kemenangan Bianconeri atas raksasa Inggris, Liverpool. Sayangnya, terdapat 39 orang yang wafat dalam laga tersebut akibat kisruh antar suporter.

Tetapi Kejadian Heysel tidaklah salah satunya aspek penarik atensi terhadap Juventus. Alibi yang lain merupakan sebab skuat asuhan Giovanni Trappatoni tersebut mempunyai modul yang berlimpah hendak mutu seperti nikeoutletstoreonlinecheapsale.

Platini tidaklah salah satunya pemain hebat yang dipunyai Juventus dikala itu. Berikut merupakan sebagian nama yang ikut menolong Bianconeri mencapai kesuksesan di masa keemasan Le Roi.

Zbigniew Boniek

 

Boniek ialah salah satu juru gedor Juventus pada masa keemasan Platini. Talentanya ditemui oleh Bianconeri kala dirinya lagi bermain buat klub Polandia, Widzew Lodz.

Dia cuma bertahan sepanjang 3 masa saja. Walaupun begitu, Boniek senantiasa dikira bagaikan legenda klub. Sebanyak 31 berhasil sukses dia bukukan dalam 133 penampilan di seluruh kompetisi bersama Bianconeri.

Begitu final Liga Champions usai, Boniek memutuskan buat menyeberang ke klub raksasa Italia lain, AS Roma. Boniek mengakhiri karirnya di situ dengan torehan 23 berhasil dari 92 penampilan.

Gaetano Scirea

 

Tidak terdapat yang dapat mengukur kesetiaan Gaetano Scirea terhadap Juventus. Apalagi dikala Si Pencipta memanggil dirinya ke Surga, Scirea masih senantiasa jadi bagian dari Bianconeri.

Sehabis kemampuannya dipoles oleh Atalanta sepanjang 2 masa, Juventus langsung membawanya ke Turin di tahun 1974. Scirea bertahan hingga pensiun pada tahun 1988 dengan rekor tidak sempat memperoleh kartu merah. Pencapaian yang luar biasa buat seseorang bek tengah.

Kesetiaannya membuat Juventus memberinya pekerjaan bagaikan mata- mata klub. Pada tahun 1989, dia ditugaskan buat memantau calon lawan Juventus di UEFA Cup, ialah Gornik Zabrze.

Cerita pilu itu diawali di mari. Kendaraan yang ditumpangi Scirea dalam ekspedisi menabrak truk yang mengangkat 4 kaleng bensin. Tidak lama sehabis musibah terjalin, kaleng bensin tersebut meledak serta merenggut nyawa Scirea.

Marco Tardelli

 

Tardelli diketahui bagaikan salah satu gelandang terbaik di masanya. Gimana tidak, pemain kelahiran Capanne di Careggine, Italia itu mempunyai seluruh atribut yang biasanya cuma dipunyai satu oleh tiap gelandang di dunia.

Tidak cuma mahir dalam seni bertahan, dengan kemampuan tackling yang luar biasa, Tardelli pula dapat membagikan donasi dalam melanda. Dia mempunyai metode dan kecepatan yang lumayan buat mendukung permainannya.

Tardelli mulai bermain unutuk Juventus pada tahun 1975, pas sehabis direkrut dari Como. Dia menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Juventus hingga memutuskan buat pindah ke Inter Milan pada tahun 1985.

Antonio Cabrini

 

Cerita menimpa seseorang winger yang jadi bek sayap nyatanya telah lama terjalin. Apalagi Cabrini pula sempat merasakan perihal yang sama.

Kesetiaan Cabrini terhadap Juventus pula sangat kental. Sehabis bergabung dengan Bianconeri pada tahun 1976, Cabrini tidak sempat berubah seragam hingga memutuskan hengkang di tahun 1989.

Cabrini mempunyai energi tarung yang besar dan kecepatan buat mendukung kebutuhannya dalam bertahan dan melanda. Tidak heran bila dirinya diucap bagaikan salah satu bek sayap terbaik di dunia pada masanya.

Paolo Rossi

 

Paolo Rossi mengawali karir profesionalnya di Juventus. Tetapi, dia baru memperoleh peluang bermain yang banyak sehabis melanglang buana bersama 3 klub Italia yang lain, ialah Como, Vicenza, serta Perugia.

Di masa 1979/ 80, Rossi ikut serta dalam skandal pengaturan skor yang diketahui dengan istilah Totonero. Dampaknya, dia memperoleh hukuman larangan bermain yang berlaku sepanjang 2 tahun.

Kendati demikian, Juventus senantiasa merekrutnya kembali di tahun 1981. Setahun selanjutnya, Rossi jadi penggawa berarti Timnas Italia yang menjuarai pagelaran Piala Dunia. Rossi berkontribusi dalam 58 persen berhasil Italia kala itu.

Dalam periode keduanya bersama Juventus, Rossi sukses menyumbangkan total 6 trofi dari bermacam kompetisi. Tidak hingga di sana, dia pula membukukan 44 berhasil dari 135 penampilan saat sebelum hengkang ke AC Milan di tahun 1985.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *